fakhrullah clock

Selasa, 11 Juni 2013

PSIKOLOGI OLAHRAGA - KEBOSANAN PADA ATLET ATLETIK NOMOR LARI 400 METER




KEBOSANAN PADA ATLET ATLETIK 
NOMOR LARI 400 METER 


A.    PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG
            Saat ini perkembangan olahraga sangat pesat baik di media massa maupun di dunia nyata,  baik di bidang prestasi, kondisi fisik, sarana dan prasarana serta hadiah yang diberikan oleh pemenang yang mendapat mendali emas. Terlepas dari itu semua, penulis ingin membahas masalah yang sering muncul dalam dunia olahraga khususnya pada cabang olahraga atletik nomor lari 400 meter, tentang boredom (bosan) pada seorang atlet saat sedang menjalani proses latihan dan akhirnya atlet tersebut memilih cabang olahraga yang lain. Hal ini bukan saja terjadi pada atlet atletik saja, masih banyak atlet lain yang mengalami keadaan seperti ini.
            Salah satu yang mendorong atlet atletik nomor lari 400m tersebut memilih cabang olahraga lain adalah minatnya. Minat merupakan keinginan untuk memilih kegiatan tertentu yang lebih menarik perhatiaannya. Adanya minat pada atlet mennunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap olahraga tersebut dari pada nonton TV, jalan-jalan dll. Sekarang tugas pelatih bukan hanya memahami gejolak emosional yang terjadi pada atlet tetapi harus dapat memberikan perlakuan-perlakuan terhadap atlet agar gejolak emosionalnya tetap terkendali, sehingga atlet dapat menguasai diri dalam keadaan bagaimanapun, dan membuat atlet atletik tersebut tetap pada cabang olahraga yang ia tekuni. Jika suatu latihan yang atlet tekuni sudah tidak menarik dan membosankan atlet tersebut akan memilih cabor yang lebih menarik lagi, sehingga hal ini memerlukan perhatian khusus jika seorang pelatih tidak ingin kehilangan atletnya maka ia harus memahami kondisi yang dialami oleh atletnya.
Berbicara soal kondisi, semua atlet memiliki kriteria yang berbeda-beda. Pelatih bukan hanya memberikan latihan secara fisik saja tetapi harus mengerti keadaan psikologi yang dialami oleh atletnya, agar tidak terjadi kebosanan dan akhirnya menjadi kelelahan. Kelahan dibagi 2 yaitu: kelelahan mental dan kelalahan otot. Kelelahan mental dapar diperbaiki dengan cara memberika para atlet rekreasi atau refresing untuk penyegaran tubuh mereka kembali, sedangkan kelelahan otot tidak sama seperti kelelahan mental karna apabila terjadi kelelahan otot memerlukan waktu yamg lama dalam pemulihan. Sebab apabila dipaksa secara trus menerus mengakibatkan terjadinya cedera. Dan akhirnya atlet merasa tidak mampu dalam mencampai prestasi yang diinginkannya.
Disini penulis lebih memfokuskan pada topik “boredom(bosan). Menurut Setyobroto (2002:96) mengemukakan bahwa “boredom adalah perasaan jemu atau bosan dalam olahraga sehingga atlet tidak menunjukkan minat dan gairah dalam melakukan latihan ataupun pertandingan”. Bosan dapat timbul apabila latihan yang diberikan kurang bervariasi, sasaran latihan lebih terarah pada kemampuan fisik. Kita ketahui bahwasannya, Minat bukanlah hal yang bersifat tetap sehingga dapat berubah sewaktu-waktu dan lebih tertarik pada objek yang lain. Timbulnya bosan inilah yang menjadi bahan penulis untuk dapat didiskusikan.


B.     PEMBAHASAN

1.       Boredom (Jemu) Pada Atlet atletik nomor lari 400m.
Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang mendasari cabang olahraga yang lain dan disebut juga induk dari seluruh cabang olahraga. Sebutan tersebut adalah sangat mendasar, karena dalam setiap cabang olahraga, cabang atletik menjadi dasar dari unsur gerak dan penampilannya seperti jalan, lompat dan lempar. Menurut Abdullah (1985:39) bahwa:
Atletik yang meliputi lari, lempar dan lompat boleh dikatakan sebagai cabang olahraga yang paling tua. Karena umur olahraga atletik sama tuanya dengan mulai adanya manusia. Manusia di bumi ini, lari, lempar, dan lompat adalah merupakan gerakan-gerakan yang amat penting serta tidak ternilai artinya bagi manusia, manusia pertama sudah harus berlari melempar dan melompat untuk mempertahankan hidupnya.
Disini penulis memfokouskan kepada atletik nomor lari. Macam-macam lari yang dapat kita lihat adalah: a. Lari jarak pendek, b. Lari jarak menengah, c. Lari jarak jauh, d. Lari halang rintang dan e. lari estafet
a.Lari Jarak Pendek
Lari jarak pendek adalah berlari dengan kecepatan penuh sepanjang jarak yang harus ditempuh, atau sampai jarak yang telah ditentukan. Lari jarak pendek terdiri dari lari 100m, 200m, 400m. Secara teknis sama. yang membedakan hanyalah pada penghematan penggunaan tenaga, karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin banyak tenaga yang harus dibutuhkan. Gerakan lari jarak pendek dibagi menjadi tiga tahap ialah: star, gerakan lari cepat (sprint), gerakan finis.
Start
Dalam perlombaan lari, ada tiga cara star, ialah :
- star berdiri (standing start)
- star jongkok (crouching start)
- start melayang (flying start) dilakukan hanya untuk pelari ke II, III dan IV dalam lari estapet 4 x 100 m.
b.Lari Jarak Menengah
Gerak lari jarak menengah (800 m- 1500 m) dan sedikit berbeda dengan gerakan lari jarak pendek .terletak pada cara kaki menapak. Lari jarak menengah, kaki menapak ball hell-ball, ialah menapakkan pada ujung kaki tumit dan menolak dengan ujung kaki. Star dikakukan dengan cara berdiri.
Yang perlu diperhatikan pada lari jarak menengah.
>>badan harus selalu rilaks atau santai.
>>Lengan diayun dan tidak terlalu tinggi seperti pada lari jarak pendek.
>>Badan condong ke depan kia-kira 15º dari garis vertica.

>>Panjang langkah tetap dan lebar tekanan pada ayunan paha ke depan, panjang langkah harus sesuai dengan panjang tungkai.
Angkat lutut cukup tinggi (tidak setinggi lari jarak pendek). Penguasaan terhadap kecepatan lari (pace) dan kondisi fisik serta daya tahan tubuh yang baik. Dalam lari jarak menengah gerakan lari harus dilakukan dengan sewajarnya, kaki diayunkan ke depan seenaknya, panjang langkah tidak terlalu dipaksakan kecuali menjelang masuk garis finis.
c.Lari Jarak Jauh
Lari jarak jauh dilakukan dalam lintasan stadion jarak 3000m, ke atas, 5000m, 10.000m, sedangkan marathon dan juga cross-country, harus dilakukan diluar stadion kecuali star dan finis, secara fisik dan mental merupakan keharusan bagi pelari jarak jauh. Ayunan lengan dan gerakan kaki dilakuakan seringan-ringannya. Makin jauh jarak lari yang ditempuh makin rendah lutut diangkat dan langkah juga makin kecil.
d.Lari Halang Rintang
Lari steeple-chase 3000 m termasuk kedalam lari jarak jauh dengan melalui rintangan-rintangan.
Rintangan itu ada dua macam;
1.Rintangan Gawang
2.Rintangan Air dengan Gawang didepannya (water jump)
.
Pelari steeple-chase harus memiliki kecepatan seperti pelari 1500m, tetapi juga harus memiliki daya tahan seperti pelari 5000 meter, dan harus memiliki kemahiran khusus dalam melewati rintangan-rintangan tersebut.
Cara untuk melampaui rintangan gawang yang banyak digunakan adalah :
(a)Seperti lari gawang biasa,
(b)Melampaui gawang dengan menginjakkan sebelah kaki di atas gawang.

(a). Cara Lari Gawang Biasa
1.Cara seperti lari gawang biasa banyak digunakan oleh pelari-pelari yang memang memiliki kemahiran dalam lari gawang dan oleh pelari-pelari yang jangkung yang dengan mudah dapat melangkahi rintangan gawang. Yang penting adalah setelah pelari melampaui gawang dapat menjaga keseimbangan sebaik-baiknya untuk melanjutkan larinya. Sangat dianjurkan agar dapat bertumpu dengan kaki manapun.
2.Cara dengan menginjakkan kaki di atas gawang digunakan oleh pelari-pelari yang belum mahir atau belum dapat melakukan cara melangkahi gawang yang baik. Cara ini digunakan juga pada waktu melampaui rintangan air. Banyak yang menggunakan cara ini karena persamaannya, sehingga tidak perlu melompati rintangan air, maka setelah kaki menumpu diatas gawang, tidak perlu menolak dengan kuat melakukan lompatan, tetapi usahakan agar kaki yang lain secepat mungkin mendarat di tanah untuk seterusnya melanjutkan lari.

(b)
. Cara untuk melampaui rintangan air pada garis besarnya adalah sebagai berikut :
            1. Bertumpu dari titik setengah meter di muka gawang rintangan air. Lalu melompat ke atas atas depan, setelah kakinya menapak di atas gawang pada ujung kaki.
2. Badan harus dibawa ke muka kaki, kaki yang bertumpu pada gawang menolak sekuatnya, kaki lainnya diayunkan ke depan sejauh-jauhnya, dan badan masih dalam sikap sedikit condong ke depan, sehingga menjadi gerakan melompat
3. Pada saat melayang, tangan digunakan untuk menjaga keseimbangan badan dan kaki tumpu melakukan gerakan permulaan untuk persiapan melangkah waktu kaki ayun mendarat.
4. Mendarat dengan kaki ayun sejauh mungkin mencapai ujung bak air, dan sedikit mungkin masuk dalam air. Kaki yang mendarat sedikit di tekuk, dan badan tetap dalam keadaan sedikit condong ke depan. Kaki lainnya diangkat untuk melangkah ke depan.
e.Lari Estafet
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Dalam satu regu lari sambung terdapat empat orang pelari, yaitu pelari pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pada nomor lari sambung ada kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor pelari lain, yaitu memindahkan tongkat sambil berlari cepat dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya.
Nomor lari estafet yang sering diperlombakan adalah nomor 4 x 100 meter dan nomor 4 x 400 meter. Dalam melakukan lari sambung bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan penerimaan tongkat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari.
            Dan sekarang telah terdapat pusat pembinaan atlet Aceh yaitu (PPLP dan  PPLPD). Disana atlet diberikan latihan seperti latihan fisik, mental, taktik dan strategi. Pelatih yang tidak mengerti tentang kondisi atlet akan selalu memaksa mereka untuk latihan secara trus menerus tanpa memperhatikan psikologi atlet sehingga tidak jarang timbul perasaan bosan dalam diri atlet tersebut. Boredom adalah perasaan jemu atau bosan. Dapat kita tandai apabila atlet mengalami  bosan yaitu minat dan gairah untuk berolahraga sudah tidak ada. Dan akhirnya keluar dari olahraga pencak silat, Salah satu fakor yang dapat mendorong atlet melakukan suatu kegiatan dengan bergairah adalah minatnya. Minat merupakan suatu kecendrungan untuk lebih memperhatikan dan memilih kegiatan tertentu diantara sejumlah kegiatan atau objek yang lain. Adanya minat berarti atlet yang bersangkutan menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap olahraga pencak silat tersebut sesuai dengan minatnya daripada kegiatan-kegiatan lain seperti melihat sandiwara,bioskop,acara santai dan sebagainya.
            Minat bukanlah hal yang bersifat tetap jadi dapat berubah apabila pada suatu waktu atlet pencak silat lebih tertarik minatnya pada obyek atau kegiatan lain. Boredom merupakan gejala menurunnya minat atlet sehingga atlet yang mengalami boredom atau rasa jemu akan menunjukan gejala malas berlatih atau menjadi kurang bergairah dalam latihan-latihan.
            Bosan terjadi pada diri atlet apabila latihan-latihan kurang berpariasi, sasaran latihan lebih terarah pada peningkatan kemampuan fisik semata-mata dan kurang perhatian terhadap aspek psikologi atlet, khususnya mengenai minat dan motivasinya. Boredom biasanya timbul apabila latihan diberikan secara paksaan semata-mata, tanpa terlebih dahulu memberikan pengertian dan pemahaman terhadap program-program latihan sehingga atlet kurang memahami arti pentingnya latihan tersebut bagi dirinya dalam upaya mencapai prestasi setinggi-tingginya. Gejala boredom apabila tidak diperhatikan dapat meningkat lebih lanjut sehingga bukan sekedar merasa jemu atau bosan tetapi merasa lelah,sama sekali tidak ada minat dan gairah: ini merupakan gejala timbulnya “Fatigue” pada diri atlet.
            Mengenai fatigue atau kelelahan dapat dibedakan atas (1).“Physical Fatigue” atau kelelahan fisik, (2).“Mental Fatigue” atau kelelahan mental.
1.      Physical Fatigue” atau kelelahan fisik: atlet yang bersangkutan mengalami kelelahan otot-ototnya sehingga tidak dapat melakukan aktivitas fisik dengan baik,ketrampilannya menurun, banyan melalukan kesalahan.Apabila dipaksa untuk terus melakukan aktivitas fisik dengan beban latihan yang lebih meningkat lagi maka dapat menimbulkan gangguan yang berupa kejang otot,kram,badannya lemas,tidak mampu bergerak dan sebagainya.
2.       Mental fatigue” atau kelelahan mental: atlet yang bersangkutan merasa lelah meskipun kalau diukur ketegangan otot-ototnya atau melalui tes asam laktat hasilnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.Jadi hanya secara psikologi ia merasakan kelelahan.Akibat terjadinya mental fatigue tersebut atlet menunjukkan penampilan yang lamban, lesu, reaksinya kurang cepat,dan sebagianya seolah-olah hilang kemampuannya untuk dapat bermain seperti sediakala.
Atlet pencak silat  yang mengalami physical fatigue perlu  beristirahat cukup lama karena fisiknya mengalami kelelahan.Atlet yang mengalami mental fatigue tidak perlu istirahat, tetapi yang lebih penting adalah mengalihkan aktivitasnya pada kegiatan lain yang dapat menarik minatnya. Sehingga timbul gairah untuk melakukan aktivitas fisik yang menunjang peningkatan prestasinya.
Yang mengalami mental fatigue dapat diajak rekreasi dipantai atau pergi kegunung melakukan olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan otot-ototnya,cross country,dan sebagainya.Yang terpenting memberikan acara latihan yang berguna  untuk menguatkan otot-ototnya dan kemampuan fisiknya,yaitu dengan kegiatan yang menarik minat dan menimbulkan motivasi baru agar dapat berlatih lebih giat lagi.

2.      Upaya Mengatasi Boredom dan Fatigue Pada Atlet atleti nomor lari
            Menghadapi boredom dan fatigue yang biasa timbul dalam pemusatan latihan yang dilaksanakan dalam waktu cukup panjang atau (pelatnas jangka panjang) dibutuhkan kreativitas dari latihan, khususnya dalam membuat program latihan yang bervariasi. Boredom dan fatigue mudah timbul apabila atlet diberi latihan dalam suasana penuh ketegangan, kurang relaks, kurang senda gurau atau humor dan latihannya itu-itu saja (kurang variasi). Jelas sekali pelatih yang baik harus menguasai metode kepelatihan dan dapat membuat variasi-variasi sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi atlet yang dibina.
            Disamping penguasaan metode melatih, pelatih juga perlu menguasai didaktik (memahami kondisi psikologi atlet). Penguasaan metode melatih akan menjamin penguasaan ketrampilan, tentu dengan cara-cara yang benar efisien dan tidak menimbulkan bahaya (cedera): dengan menguasai didaktik maka pelatih dapat selalu menarik minat para atlet, tidak mengabaikan minat dan kebutuhan atlet yang dibina serta selalu menjaga hubungan yang harmonis, akrab tetapi pelatih cukup berwibawa dimata atletnya.
            Gejala baredom dan mental fatigue yang dialami atlet atletik nomor lari 400m menunjukkan menurunnya motivasi yang sangat penting artinya dalam upaya pembinaan talet. Sebagaimana dikatakan Singer (1986) “pengalaman menunjukkan bahwa cukup banyak atlet berbakat hilang ditengah jalan karena pelatih tidak bisa menimbulkan motivasi”. Tanpa memiliki motivasi disamping timbul rasa jemu juga timbul gejala-gejala lain seperti hilangnya minat dan kegairahan, frustasi karena tidak bisa mencapai apa yang diharapkan,rasa putus asa dan akhirnya meninggalkan olahraga.
Untuk mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan tindakan-tindakan antara lain :
1.      Menimbulkan  harapan baru, yaitu  dengan cara menunjukkan sasaran untuk dicapai sesuai dengan kemampuan atlet yang bersangkutan. Setiap atlet membutuhkan kepuasan karena dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari yang sudah di capainya dan lebih puas lagi apabila mendapat penghargaan atas apa yang dicapai tersebut. Tehnik ini sesuai dengan tehnik menimbulkan motivasi yang dikenal dengan “Goal Setting”.
2.      Menimbulkan rasa mampu dan percayadiri; ada kalanya prestasi atlet seolah-olah  berhenti pada tingkatan tertentu sedangkan kemampuannya seharusnya ia dapat mencapai prestasi lebih tinggi dari apa yang dicapainya.Pelatih harus pandai mengamati segi-segi positif atau kemampuan-kemampuan dan kelebihan-kelebihan atlet yang bersangkutan,digunakan untuk menimbulkan rasa percaya diri bahwa dengan latihan lebih intensif pasti atlet tersebut mencapai prestasi  lebih tinggi; misalnya dengan mengetahui kecepatan sibakan kaki dan kekuatan kayuhan tangan perenang,maka pelatih dapat memberikan penjelasan bahwa kemampuan kayuhan tangan perenang tersebut lebih bagus dari  perenang lain, oleh rakena itu dengan melakukan latihan lebih intensif pada gerakan kaki dan kayuhan tangan pasti prestasinya akan meningkat.
3.      Tehnik menimbulkan motivasi dengan memberikan tantangan juga merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk memacu atlet mencapai prestasi lebih tinggi.Sehingga rasa jemu ataupun kelelahan  mental dapat dikurangi karena adanya tantangan yang berupa target-target yang perlu dikejar.Ini hanya dapat dilakukan dengan baik melalui pendekatan psikologi.
4.      Sistem “Reward dan Punlshment” atau pemberian penghargaan dan hukuman  juga dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi;hendaknya pelatih lebih mengutamakan cara,pemberian penghargaan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memberikan pujian,acungan jempol,memberi nilai yang lebih dari apa yang dicapai,memberikan tanda-tanda yang menunjukkan kenaikan kelas atau tingkat (seperti bela diri) dan sebagainya.Hukuman hendaknya sejauh mungkin dihindarkan kecuali kalau betul-betul diperlukan dan biasanya hanya dapat diterapkan pada atlet yang mempunyai sifat-sifat tertentu,seperti sifat tidak tersinggung,terbuka,suka humor,dan sebagainya.
Jadi penulis mengambil kesimpulan dari pemahaman diatas bahwasannya,
 Untuk mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti: Menimbulkan  harapan baru, Menimbulkan rasa mampu dan percayadiri, menimbulkan motivasi dengan memberikan tantangan, dan pemberian penghargaan.
Diatas telah dijelaskan bahwa atlet  yang telah timbul rasa bosan apabila dibiarkan akan timbul rasa jenuh dan rasa jenuh ini apabila dibiarkan juga akan timbul perasaan atlet merasa tidak mampu (staleness) untuk mencapai prestasi yang diharapkan,yang sebenarnya ia dapat mencapainya. Staleness yang dialami atle pencak silatt ditandai dengan tingkah laku kurang relaks, selalu diliputi ketegangan dan sebagainya; sebagai mana yang dipaparkan oleh (Setyobroto,2002:100) yang apabila dirinci dapat dikelompokkan dalam gejala psikologi dan fisiologik sebagai berikut :
(1). Gejala fisiologik pada steleness yang antara lain :
a)      Napsu makan kurang atau sebaliknya sebagai penyaluran ketidak puasannya justru makan berlebihan, b) Gangguan pada pencernaan kadang-kadang merasa sakit perut,sukar kebelakang dan sebagainya,c) tidak dapat tidur nyenyak, bangun tidak teratur, kadang-kadang terlalu cepat dan tidak bisa tidur lagi, d)sering merasa pusing dan sebagainya.
(2). Gejala psikologik pada steleness :
1.      Kurang relaks atau selalu kelihatan tegang
2.      Sering kelihatan bimbang ragu menghadapi tugas latihan.
3.      Mudah tersinggung
4.      Merasa seluruh badan lelah,kehilangan ketelitian,kehilangan konsentrasi dan sebagainya.
C.    KESIMPULAN
                                
Kesimpulan
            Boredom atau kebosanan dapat membuat seorang atlet atletik pindah dan memilih cabang olahraga lainnya yang lebih menarik dari pada latihan yang ia tekuni sebelumnya, hal itu disebabkan dari proglam latihan yang membosankan/kurang bervariasi dan tegang. sehingga semakin lama dibiarkan atau tidak diatasi maka akan berubah menjadi jenuh yang mengakibatkan cedera pada mental dan fisik atlet atletik nomor lari binnaan Diklat dan setelah itu atletpun akan timbul perasaan bahwasannya ia tidak mampu lagi meraih prestasi yang telah ditargetkan.














DAFTAR PUSTAKA

Djaali. (2011), Psikologi Pendidikan. Jakarta, PT. Bima Aksara
Gunn. (2007), Fear Is Power. Jakarta, PT. Bima Aksara
Sudibyo Setyiobroto. (2002 ), Psikologi Kepelatihan. Jakarta, PT. Bima Aksara
http:/Psikologi Olahraga.com

                                                                                                                    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih....
Wassalam.............