fakhrullah clock

Selasa, 11 Juni 2013

PSIKOLOGI OLAHRAGA - KEBOSANAN PADA ATLET ATLETIK NOMOR LARI 400 METER




KEBOSANAN PADA ATLET ATLETIK 
NOMOR LARI 400 METER 


A.    PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG
            Saat ini perkembangan olahraga sangat pesat baik di media massa maupun di dunia nyata,  baik di bidang prestasi, kondisi fisik, sarana dan prasarana serta hadiah yang diberikan oleh pemenang yang mendapat mendali emas. Terlepas dari itu semua, penulis ingin membahas masalah yang sering muncul dalam dunia olahraga khususnya pada cabang olahraga atletik nomor lari 400 meter, tentang boredom (bosan) pada seorang atlet saat sedang menjalani proses latihan dan akhirnya atlet tersebut memilih cabang olahraga yang lain. Hal ini bukan saja terjadi pada atlet atletik saja, masih banyak atlet lain yang mengalami keadaan seperti ini.
            Salah satu yang mendorong atlet atletik nomor lari 400m tersebut memilih cabang olahraga lain adalah minatnya. Minat merupakan keinginan untuk memilih kegiatan tertentu yang lebih menarik perhatiaannya. Adanya minat pada atlet mennunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap olahraga tersebut dari pada nonton TV, jalan-jalan dll. Sekarang tugas pelatih bukan hanya memahami gejolak emosional yang terjadi pada atlet tetapi harus dapat memberikan perlakuan-perlakuan terhadap atlet agar gejolak emosionalnya tetap terkendali, sehingga atlet dapat menguasai diri dalam keadaan bagaimanapun, dan membuat atlet atletik tersebut tetap pada cabang olahraga yang ia tekuni. Jika suatu latihan yang atlet tekuni sudah tidak menarik dan membosankan atlet tersebut akan memilih cabor yang lebih menarik lagi, sehingga hal ini memerlukan perhatian khusus jika seorang pelatih tidak ingin kehilangan atletnya maka ia harus memahami kondisi yang dialami oleh atletnya.
Berbicara soal kondisi, semua atlet memiliki kriteria yang berbeda-beda. Pelatih bukan hanya memberikan latihan secara fisik saja tetapi harus mengerti keadaan psikologi yang dialami oleh atletnya, agar tidak terjadi kebosanan dan akhirnya menjadi kelelahan. Kelahan dibagi 2 yaitu: kelelahan mental dan kelalahan otot. Kelelahan mental dapar diperbaiki dengan cara memberika para atlet rekreasi atau refresing untuk penyegaran tubuh mereka kembali, sedangkan kelelahan otot tidak sama seperti kelelahan mental karna apabila terjadi kelelahan otot memerlukan waktu yamg lama dalam pemulihan. Sebab apabila dipaksa secara trus menerus mengakibatkan terjadinya cedera. Dan akhirnya atlet merasa tidak mampu dalam mencampai prestasi yang diinginkannya.
Disini penulis lebih memfokuskan pada topik “boredom(bosan). Menurut Setyobroto (2002:96) mengemukakan bahwa “boredom adalah perasaan jemu atau bosan dalam olahraga sehingga atlet tidak menunjukkan minat dan gairah dalam melakukan latihan ataupun pertandingan”. Bosan dapat timbul apabila latihan yang diberikan kurang bervariasi, sasaran latihan lebih terarah pada kemampuan fisik. Kita ketahui bahwasannya, Minat bukanlah hal yang bersifat tetap sehingga dapat berubah sewaktu-waktu dan lebih tertarik pada objek yang lain. Timbulnya bosan inilah yang menjadi bahan penulis untuk dapat didiskusikan.


B.     PEMBAHASAN

1.       Boredom (Jemu) Pada Atlet atletik nomor lari 400m.
Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang mendasari cabang olahraga yang lain dan disebut juga induk dari seluruh cabang olahraga. Sebutan tersebut adalah sangat mendasar, karena dalam setiap cabang olahraga, cabang atletik menjadi dasar dari unsur gerak dan penampilannya seperti jalan, lompat dan lempar. Menurut Abdullah (1985:39) bahwa:
Atletik yang meliputi lari, lempar dan lompat boleh dikatakan sebagai cabang olahraga yang paling tua. Karena umur olahraga atletik sama tuanya dengan mulai adanya manusia. Manusia di bumi ini, lari, lempar, dan lompat adalah merupakan gerakan-gerakan yang amat penting serta tidak ternilai artinya bagi manusia, manusia pertama sudah harus berlari melempar dan melompat untuk mempertahankan hidupnya.
Disini penulis memfokouskan kepada atletik nomor lari. Macam-macam lari yang dapat kita lihat adalah: a. Lari jarak pendek, b. Lari jarak menengah, c. Lari jarak jauh, d. Lari halang rintang dan e. lari estafet
a.Lari Jarak Pendek
Lari jarak pendek adalah berlari dengan kecepatan penuh sepanjang jarak yang harus ditempuh, atau sampai jarak yang telah ditentukan. Lari jarak pendek terdiri dari lari 100m, 200m, 400m. Secara teknis sama. yang membedakan hanyalah pada penghematan penggunaan tenaga, karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin banyak tenaga yang harus dibutuhkan. Gerakan lari jarak pendek dibagi menjadi tiga tahap ialah: star, gerakan lari cepat (sprint), gerakan finis.
Start
Dalam perlombaan lari, ada tiga cara star, ialah :
- star berdiri (standing start)
- star jongkok (crouching start)
- start melayang (flying start) dilakukan hanya untuk pelari ke II, III dan IV dalam lari estapet 4 x 100 m.
b.Lari Jarak Menengah
Gerak lari jarak menengah (800 m- 1500 m) dan sedikit berbeda dengan gerakan lari jarak pendek .terletak pada cara kaki menapak. Lari jarak menengah, kaki menapak ball hell-ball, ialah menapakkan pada ujung kaki tumit dan menolak dengan ujung kaki. Star dikakukan dengan cara berdiri.
Yang perlu diperhatikan pada lari jarak menengah.
>>badan harus selalu rilaks atau santai.
>>Lengan diayun dan tidak terlalu tinggi seperti pada lari jarak pendek.
>>Badan condong ke depan kia-kira 15º dari garis vertica.

>>Panjang langkah tetap dan lebar tekanan pada ayunan paha ke depan, panjang langkah harus sesuai dengan panjang tungkai.
Angkat lutut cukup tinggi (tidak setinggi lari jarak pendek). Penguasaan terhadap kecepatan lari (pace) dan kondisi fisik serta daya tahan tubuh yang baik. Dalam lari jarak menengah gerakan lari harus dilakukan dengan sewajarnya, kaki diayunkan ke depan seenaknya, panjang langkah tidak terlalu dipaksakan kecuali menjelang masuk garis finis.
c.Lari Jarak Jauh
Lari jarak jauh dilakukan dalam lintasan stadion jarak 3000m, ke atas, 5000m, 10.000m, sedangkan marathon dan juga cross-country, harus dilakukan diluar stadion kecuali star dan finis, secara fisik dan mental merupakan keharusan bagi pelari jarak jauh. Ayunan lengan dan gerakan kaki dilakuakan seringan-ringannya. Makin jauh jarak lari yang ditempuh makin rendah lutut diangkat dan langkah juga makin kecil.
d.Lari Halang Rintang
Lari steeple-chase 3000 m termasuk kedalam lari jarak jauh dengan melalui rintangan-rintangan.
Rintangan itu ada dua macam;
1.Rintangan Gawang
2.Rintangan Air dengan Gawang didepannya (water jump)
.
Pelari steeple-chase harus memiliki kecepatan seperti pelari 1500m, tetapi juga harus memiliki daya tahan seperti pelari 5000 meter, dan harus memiliki kemahiran khusus dalam melewati rintangan-rintangan tersebut.
Cara untuk melampaui rintangan gawang yang banyak digunakan adalah :
(a)Seperti lari gawang biasa,
(b)Melampaui gawang dengan menginjakkan sebelah kaki di atas gawang.

(a). Cara Lari Gawang Biasa
1.Cara seperti lari gawang biasa banyak digunakan oleh pelari-pelari yang memang memiliki kemahiran dalam lari gawang dan oleh pelari-pelari yang jangkung yang dengan mudah dapat melangkahi rintangan gawang. Yang penting adalah setelah pelari melampaui gawang dapat menjaga keseimbangan sebaik-baiknya untuk melanjutkan larinya. Sangat dianjurkan agar dapat bertumpu dengan kaki manapun.
2.Cara dengan menginjakkan kaki di atas gawang digunakan oleh pelari-pelari yang belum mahir atau belum dapat melakukan cara melangkahi gawang yang baik. Cara ini digunakan juga pada waktu melampaui rintangan air. Banyak yang menggunakan cara ini karena persamaannya, sehingga tidak perlu melompati rintangan air, maka setelah kaki menumpu diatas gawang, tidak perlu menolak dengan kuat melakukan lompatan, tetapi usahakan agar kaki yang lain secepat mungkin mendarat di tanah untuk seterusnya melanjutkan lari.

(b)
. Cara untuk melampaui rintangan air pada garis besarnya adalah sebagai berikut :
            1. Bertumpu dari titik setengah meter di muka gawang rintangan air. Lalu melompat ke atas atas depan, setelah kakinya menapak di atas gawang pada ujung kaki.
2. Badan harus dibawa ke muka kaki, kaki yang bertumpu pada gawang menolak sekuatnya, kaki lainnya diayunkan ke depan sejauh-jauhnya, dan badan masih dalam sikap sedikit condong ke depan, sehingga menjadi gerakan melompat
3. Pada saat melayang, tangan digunakan untuk menjaga keseimbangan badan dan kaki tumpu melakukan gerakan permulaan untuk persiapan melangkah waktu kaki ayun mendarat.
4. Mendarat dengan kaki ayun sejauh mungkin mencapai ujung bak air, dan sedikit mungkin masuk dalam air. Kaki yang mendarat sedikit di tekuk, dan badan tetap dalam keadaan sedikit condong ke depan. Kaki lainnya diangkat untuk melangkah ke depan.
e.Lari Estafet
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Dalam satu regu lari sambung terdapat empat orang pelari, yaitu pelari pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pada nomor lari sambung ada kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor pelari lain, yaitu memindahkan tongkat sambil berlari cepat dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya.
Nomor lari estafet yang sering diperlombakan adalah nomor 4 x 100 meter dan nomor 4 x 400 meter. Dalam melakukan lari sambung bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan penerimaan tongkat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari.
            Dan sekarang telah terdapat pusat pembinaan atlet Aceh yaitu (PPLP dan  PPLPD). Disana atlet diberikan latihan seperti latihan fisik, mental, taktik dan strategi. Pelatih yang tidak mengerti tentang kondisi atlet akan selalu memaksa mereka untuk latihan secara trus menerus tanpa memperhatikan psikologi atlet sehingga tidak jarang timbul perasaan bosan dalam diri atlet tersebut. Boredom adalah perasaan jemu atau bosan. Dapat kita tandai apabila atlet mengalami  bosan yaitu minat dan gairah untuk berolahraga sudah tidak ada. Dan akhirnya keluar dari olahraga pencak silat, Salah satu fakor yang dapat mendorong atlet melakukan suatu kegiatan dengan bergairah adalah minatnya. Minat merupakan suatu kecendrungan untuk lebih memperhatikan dan memilih kegiatan tertentu diantara sejumlah kegiatan atau objek yang lain. Adanya minat berarti atlet yang bersangkutan menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap olahraga pencak silat tersebut sesuai dengan minatnya daripada kegiatan-kegiatan lain seperti melihat sandiwara,bioskop,acara santai dan sebagainya.
            Minat bukanlah hal yang bersifat tetap jadi dapat berubah apabila pada suatu waktu atlet pencak silat lebih tertarik minatnya pada obyek atau kegiatan lain. Boredom merupakan gejala menurunnya minat atlet sehingga atlet yang mengalami boredom atau rasa jemu akan menunjukan gejala malas berlatih atau menjadi kurang bergairah dalam latihan-latihan.
            Bosan terjadi pada diri atlet apabila latihan-latihan kurang berpariasi, sasaran latihan lebih terarah pada peningkatan kemampuan fisik semata-mata dan kurang perhatian terhadap aspek psikologi atlet, khususnya mengenai minat dan motivasinya. Boredom biasanya timbul apabila latihan diberikan secara paksaan semata-mata, tanpa terlebih dahulu memberikan pengertian dan pemahaman terhadap program-program latihan sehingga atlet kurang memahami arti pentingnya latihan tersebut bagi dirinya dalam upaya mencapai prestasi setinggi-tingginya. Gejala boredom apabila tidak diperhatikan dapat meningkat lebih lanjut sehingga bukan sekedar merasa jemu atau bosan tetapi merasa lelah,sama sekali tidak ada minat dan gairah: ini merupakan gejala timbulnya “Fatigue” pada diri atlet.
            Mengenai fatigue atau kelelahan dapat dibedakan atas (1).“Physical Fatigue” atau kelelahan fisik, (2).“Mental Fatigue” atau kelelahan mental.
1.      Physical Fatigue” atau kelelahan fisik: atlet yang bersangkutan mengalami kelelahan otot-ototnya sehingga tidak dapat melakukan aktivitas fisik dengan baik,ketrampilannya menurun, banyan melalukan kesalahan.Apabila dipaksa untuk terus melakukan aktivitas fisik dengan beban latihan yang lebih meningkat lagi maka dapat menimbulkan gangguan yang berupa kejang otot,kram,badannya lemas,tidak mampu bergerak dan sebagainya.
2.       Mental fatigue” atau kelelahan mental: atlet yang bersangkutan merasa lelah meskipun kalau diukur ketegangan otot-ototnya atau melalui tes asam laktat hasilnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.Jadi hanya secara psikologi ia merasakan kelelahan.Akibat terjadinya mental fatigue tersebut atlet menunjukkan penampilan yang lamban, lesu, reaksinya kurang cepat,dan sebagianya seolah-olah hilang kemampuannya untuk dapat bermain seperti sediakala.
Atlet pencak silat  yang mengalami physical fatigue perlu  beristirahat cukup lama karena fisiknya mengalami kelelahan.Atlet yang mengalami mental fatigue tidak perlu istirahat, tetapi yang lebih penting adalah mengalihkan aktivitasnya pada kegiatan lain yang dapat menarik minatnya. Sehingga timbul gairah untuk melakukan aktivitas fisik yang menunjang peningkatan prestasinya.
Yang mengalami mental fatigue dapat diajak rekreasi dipantai atau pergi kegunung melakukan olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan otot-ototnya,cross country,dan sebagainya.Yang terpenting memberikan acara latihan yang berguna  untuk menguatkan otot-ototnya dan kemampuan fisiknya,yaitu dengan kegiatan yang menarik minat dan menimbulkan motivasi baru agar dapat berlatih lebih giat lagi.

2.      Upaya Mengatasi Boredom dan Fatigue Pada Atlet atleti nomor lari
            Menghadapi boredom dan fatigue yang biasa timbul dalam pemusatan latihan yang dilaksanakan dalam waktu cukup panjang atau (pelatnas jangka panjang) dibutuhkan kreativitas dari latihan, khususnya dalam membuat program latihan yang bervariasi. Boredom dan fatigue mudah timbul apabila atlet diberi latihan dalam suasana penuh ketegangan, kurang relaks, kurang senda gurau atau humor dan latihannya itu-itu saja (kurang variasi). Jelas sekali pelatih yang baik harus menguasai metode kepelatihan dan dapat membuat variasi-variasi sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi atlet yang dibina.
            Disamping penguasaan metode melatih, pelatih juga perlu menguasai didaktik (memahami kondisi psikologi atlet). Penguasaan metode melatih akan menjamin penguasaan ketrampilan, tentu dengan cara-cara yang benar efisien dan tidak menimbulkan bahaya (cedera): dengan menguasai didaktik maka pelatih dapat selalu menarik minat para atlet, tidak mengabaikan minat dan kebutuhan atlet yang dibina serta selalu menjaga hubungan yang harmonis, akrab tetapi pelatih cukup berwibawa dimata atletnya.
            Gejala baredom dan mental fatigue yang dialami atlet atletik nomor lari 400m menunjukkan menurunnya motivasi yang sangat penting artinya dalam upaya pembinaan talet. Sebagaimana dikatakan Singer (1986) “pengalaman menunjukkan bahwa cukup banyak atlet berbakat hilang ditengah jalan karena pelatih tidak bisa menimbulkan motivasi”. Tanpa memiliki motivasi disamping timbul rasa jemu juga timbul gejala-gejala lain seperti hilangnya minat dan kegairahan, frustasi karena tidak bisa mencapai apa yang diharapkan,rasa putus asa dan akhirnya meninggalkan olahraga.
Untuk mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan tindakan-tindakan antara lain :
1.      Menimbulkan  harapan baru, yaitu  dengan cara menunjukkan sasaran untuk dicapai sesuai dengan kemampuan atlet yang bersangkutan. Setiap atlet membutuhkan kepuasan karena dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari yang sudah di capainya dan lebih puas lagi apabila mendapat penghargaan atas apa yang dicapai tersebut. Tehnik ini sesuai dengan tehnik menimbulkan motivasi yang dikenal dengan “Goal Setting”.
2.      Menimbulkan rasa mampu dan percayadiri; ada kalanya prestasi atlet seolah-olah  berhenti pada tingkatan tertentu sedangkan kemampuannya seharusnya ia dapat mencapai prestasi lebih tinggi dari apa yang dicapainya.Pelatih harus pandai mengamati segi-segi positif atau kemampuan-kemampuan dan kelebihan-kelebihan atlet yang bersangkutan,digunakan untuk menimbulkan rasa percaya diri bahwa dengan latihan lebih intensif pasti atlet tersebut mencapai prestasi  lebih tinggi; misalnya dengan mengetahui kecepatan sibakan kaki dan kekuatan kayuhan tangan perenang,maka pelatih dapat memberikan penjelasan bahwa kemampuan kayuhan tangan perenang tersebut lebih bagus dari  perenang lain, oleh rakena itu dengan melakukan latihan lebih intensif pada gerakan kaki dan kayuhan tangan pasti prestasinya akan meningkat.
3.      Tehnik menimbulkan motivasi dengan memberikan tantangan juga merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk memacu atlet mencapai prestasi lebih tinggi.Sehingga rasa jemu ataupun kelelahan  mental dapat dikurangi karena adanya tantangan yang berupa target-target yang perlu dikejar.Ini hanya dapat dilakukan dengan baik melalui pendekatan psikologi.
4.      Sistem “Reward dan Punlshment” atau pemberian penghargaan dan hukuman  juga dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi;hendaknya pelatih lebih mengutamakan cara,pemberian penghargaan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memberikan pujian,acungan jempol,memberi nilai yang lebih dari apa yang dicapai,memberikan tanda-tanda yang menunjukkan kenaikan kelas atau tingkat (seperti bela diri) dan sebagainya.Hukuman hendaknya sejauh mungkin dihindarkan kecuali kalau betul-betul diperlukan dan biasanya hanya dapat diterapkan pada atlet yang mempunyai sifat-sifat tertentu,seperti sifat tidak tersinggung,terbuka,suka humor,dan sebagainya.
Jadi penulis mengambil kesimpulan dari pemahaman diatas bahwasannya,
 Untuk mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti: Menimbulkan  harapan baru, Menimbulkan rasa mampu dan percayadiri, menimbulkan motivasi dengan memberikan tantangan, dan pemberian penghargaan.
Diatas telah dijelaskan bahwa atlet  yang telah timbul rasa bosan apabila dibiarkan akan timbul rasa jenuh dan rasa jenuh ini apabila dibiarkan juga akan timbul perasaan atlet merasa tidak mampu (staleness) untuk mencapai prestasi yang diharapkan,yang sebenarnya ia dapat mencapainya. Staleness yang dialami atle pencak silatt ditandai dengan tingkah laku kurang relaks, selalu diliputi ketegangan dan sebagainya; sebagai mana yang dipaparkan oleh (Setyobroto,2002:100) yang apabila dirinci dapat dikelompokkan dalam gejala psikologi dan fisiologik sebagai berikut :
(1). Gejala fisiologik pada steleness yang antara lain :
a)      Napsu makan kurang atau sebaliknya sebagai penyaluran ketidak puasannya justru makan berlebihan, b) Gangguan pada pencernaan kadang-kadang merasa sakit perut,sukar kebelakang dan sebagainya,c) tidak dapat tidur nyenyak, bangun tidak teratur, kadang-kadang terlalu cepat dan tidak bisa tidur lagi, d)sering merasa pusing dan sebagainya.
(2). Gejala psikologik pada steleness :
1.      Kurang relaks atau selalu kelihatan tegang
2.      Sering kelihatan bimbang ragu menghadapi tugas latihan.
3.      Mudah tersinggung
4.      Merasa seluruh badan lelah,kehilangan ketelitian,kehilangan konsentrasi dan sebagainya.
C.    KESIMPULAN
                                
Kesimpulan
            Boredom atau kebosanan dapat membuat seorang atlet atletik pindah dan memilih cabang olahraga lainnya yang lebih menarik dari pada latihan yang ia tekuni sebelumnya, hal itu disebabkan dari proglam latihan yang membosankan/kurang bervariasi dan tegang. sehingga semakin lama dibiarkan atau tidak diatasi maka akan berubah menjadi jenuh yang mengakibatkan cedera pada mental dan fisik atlet atletik nomor lari binnaan Diklat dan setelah itu atletpun akan timbul perasaan bahwasannya ia tidak mampu lagi meraih prestasi yang telah ditargetkan.














DAFTAR PUSTAKA

Djaali. (2011), Psikologi Pendidikan. Jakarta, PT. Bima Aksara
Gunn. (2007), Fear Is Power. Jakarta, PT. Bima Aksara
Sudibyo Setyiobroto. (2002 ), Psikologi Kepelatihan. Jakarta, PT. Bima Aksara
http:/Psikologi Olahraga.com

                                                                                                                    


MOTORIK - PENGAMATAN GERAK (Anita J. Harrow)



MATA KULIAH                 : BELAJAR MOTORIK


HARI/TANGGAL          : MINGGU/24 MARET 2013
DOSEN PENGASUH       : Dr. SAIFUDDIN, M.Pd


CABANG OLAHRAGA: SEPAK BOLA
PENGAMATAN GERAK
NO
KLASIFIKASI GERAK MENURUT ANITA J. HARROW

INDIKATOR
SKOR
PERSENTASE %
KUALITAS
1
GERAK REFLEX (Respon gerak atau aksi yang terjadi tanpa kemauan sadar yang ditimbulkan oleh suatu stimulus)



0
%
-
2
GERAK DASAR FUNDAMENTAL (Gerakan-gerakan dasar yang berkembang sejalan dengan pertumbuhan tubuh dan tingkat kematangan pada anak-anak)
a.
Lokomotor (Gerak berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain)

90
%
BAIK SEKALI
b.
Nonlokomotor (Gerak yang berporos pada sumbu persendian tubuh tertentu)

90
%
BAIK
c.
Manipulatif (Gerak memanipulasi atau memainkan obyek tertentu menggunakan tangan,kaki atau anggota tubuh lainnya)

50
%
SEDANG
3
KEMAMPUAN PERSEPTUAL (Kemampuan untuk menginterpretasi stimulus yang ditangkap oleh organ indera)
a.
Mata

90
%
BAIK SEKALI
b.
Pendengaran

50
%
SEDANG
c.
Penciuman


%
-
d.
Perasa

60 
%
SEDANG
e.
Pengecap


%
-
4
KEMAMPUAN FISIK (Kemampuan untuk memfungsikan sistem organ tubuh dalam melakukan aktivitas gerak tubuh)
a.
Daya Tahan

60
%
SEDANG
b.
Kekuatan

60
%
SEDANG
c.
Kecepatan

60
%
SEDANG
d.
Kelincahan

60
%
SEDANG
e.
Kelentukan

60
%
SEDANG
f.
Power

60
%
SEDANG
g.
Keseimbangan

60
%
SEDANG
h.
Akurasi

60
%
SEDANG
i.
Koordinasi

60
%
SEDANG
j.
Reaksi

60
%
SEDANG
5
KETRAMPILAN GERAK (Gerak mengikuti pola/bentuk tertentu memerlukan koordinasi kontrol sebagian/seluruh tubuh yang dapat dilakukan melalui proses belajar)
a.
Passing

75
%
BAIK
b.
Dribling

60
%
SEDANG
c.
Shooting

60
%
SEDANG
d.
Controlling

60
%
KURANG
e.
Throwin

50
%
SEDANG
f.
Heading

40
%
KURANG
g.
Teknik penjaga Gawang

50
%
SEDANG
6
KOMUNIKASI NON DISKURSIF (Komunikasi melalui prilaku gerak tubuh)
a.
Gerak Ekspresif

60
%
SEDANG
b.
Gerak Interpretif

0
%
-
PENGAMATAN DI LAKUKAN DI
:
LAPANGAN  PSJ PAGAR AIR




DIAMATI OLEH
:1.
KURNIA KHALIK




                                                                                                            2.      FAKHRULLAH

BAB I
PENDAHULUAN
Motorik adalah keseluruhan proses yang terjadi pada tubuh manusia, yang meliputi proses pengendalian (koordinasi) dan proses pengaturan (kondisi fisik) yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi dan faktor psikis untuk mendapatkan suatu gerakan yang baik.Motorik berfungsi sebagai motor penggerak yang terdapat didalam tubuh manusia. Motorik dan gerak tidaklah sama, namun tetapi berhubungan. Definisi lain menyebutkan bahwa  yang dimaksud dengan motorik ialah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh.Dalam perkembangan motorik, unsur-unsur yang menentukan ialah
1.Otot,2.Saraf, dan3. Otak.
Ketiga unsur itu melaksanakan masing-masing peranannya secara “interaksi positif”, artinya unsur-unsur yang satu saling berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi dengan unsur yang lainnya untuk mencapai kondisi motoris yang lebih sempurna keadaannya. Selain mengandalkan kekuatan otot, rupanya kesempurnaan otak juga turut menentukan keadaan. Anak yang pertumbuhan otaknya mengalami gangguan tampak kurang terampil.
Pada pengamatan gerak ini kami lebih fokus pada gerak dalam cabang olahraga sepak bola.didalamnya kami membahas tentang jumlah persentase dan bagaimana kualitas gerakan dalam pertandingan tersebut. Kami melakukan pengamatan pada pertandingan antara STUDIO 86 VS PSJ PAGAR AIR yang berlangsung dilapangan PSJ. Dalam hal ini kami mengamati pertandingan dari awal sampai pertandingan itu berakhir.lebih jelas tentang pembahasan gerak  pada bab selanjutnya.

BAB II
PENGAMATAN GERAK

Pengamatan Gerak Pada Pertandingan Studio 86 Vs Psj Pagar Air
1. Gerak Reflek
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat berlangsungnya permainan sepak bola antara Studio 86 Vs Psj Pagar Air bahwa tidak ada gerakan reflek dalam pengamatan tersebut. Dalam permainan tersebut semua pemain bermain dalam keadaan sadar dan bergerak atas kemauan dirinya sendiri akibat adanya stimulus, seorang pemain tau bahwa bola yang akan menghampirinya akibat serangan dari lawan sehingga para  pemain harus bergerak dan semua aksi pemain bergerak dalam keadaan sadar. Gerakan yang dperagakan oleh pemain merupakan gerakan gerakan yang bisa dilatih sedangkan gerak reflek tidak bisa dilatih. Hal ini sesuai dengan defenisi gerak reflek yaitu “Gerak reflek adalah respon gerak atau aksi yang terjadi tanpa kemauan sadar, yang ditimbulkan oleh suatu stimulus”.( Harrow Anita).

2. Gerak Dasar Fundamental
Harrow Gerak dasar fundamental adalah Gerakan gerakan  dasar yang berkembang sejalan dengan pertumbuhan tubuh dan tingkat kematangan pada anak”. Dalam dunia olahraga tak terkecuali sepak bola gerak fundamental sangat berperan, apabila tidak ada gerak fundamental maka seseorang tidak bisa bermain sepak bola. Gerak fundamental begitu penting dalam semua cabang olahraga  karena gerak fundamental merupakan gerakan- gerakan dasar pada tubuh dan dalam olahraga sepak bola yang dimainkan oleh manusia tentunya memakai gerak gerak fundamental. Gerak dasar fundamental di bagi tiga yaitu akan di uraikan di bawah ini:
a.      Gerak Lokomotor
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pemain sepak bola melakukan latihan dilapangan sepak bola Mata Ie. Bahwa 95 % gerak lokomotor berperan pada olahraga sepak bola. Menurut  Anita J. Harrow “Gerak lokomotor adalah gerak berpindah dari tempat ketempat yang lain”. Dalam olahraga sepak bola gerak lokomotor yaitu seperti berjalan, lari, lompat bergerak kiri dan kanan dan termasuk gerak saat heading bola, dan gerakan penjaga gawang.
b.      Gerak Non Lokomotor
Berdasaran pengamatan yang dilakukan pada saat pemain sepak bola melakukan latihan dilapangan sepak bola Mata Ie. Bahwa 95 % gerak non lokomotor digunakan dalam bermain sepak bola seperti gerak ayunan lengan, menekuk lutut, gerak jari jari tangan pada saat throwin bola out. Semua gerak gerak tersebut merupakan gerak berporos pada sendi. hal ini sesuai dengan pendapat para ahli bahwa : “Gerak non lokomotor adalah gerak yang berporos pada sumbu persendian tubuh tertentu”.( Harrow Anita).
c.       Gerak Manipulatif
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pemain sepak bola melakukan latihan dilapangan sepak bola Mata Ie. Bahwa 95 % gerak manipulatif digunakan dalam olah raga sepak bola. Anita J. Harrow mengatakan “Gerak manipulatif adalah gerak memanipulasi atau memainkan objek tertentu menggunakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya”. Dalam olahraga sepak bola gerak manipulatif merupakan gerak keterampilan dasar sepak bola seperti gerak passing bola, menggiring bola dan shooting atau free kick.
3. Kemampuan Perseptual
            Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat pemain             sepak bola melakukan latihan dilapangan sepak bola Psj Pagar Air .Bahwa penglihantan 90% pendengaran 60 % penciuman 0 % perasa 60 % pengecap 0 %. Selanjutnya di rata ratakan Kemampuan Perseptual dalam permainan sepak bola yaitu 75 %. Menurut Anita J. Harrow mengemukakan kemampuan perseptual ialah “Kemampuan mengintepretasikan stimulus yang di tangkap oleh indra”
Dalam olahraga sepak bola kemampuan perseptual sangat berfungsi, contohnya seorang pemain  sepak bola melihat lawannya sedang menggiring dan mengoper bola, maka pemain lawan akan melihat kemana arah datang operan bola tersebut sehingga menimbulkan reaksi pemain secara cepat menanggapi pergerakan bola yang dioper atau passing. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Sajoto (1995:10) bahwa “Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau feeling lainnya seperti dalam mengantipasi datangnya bola yang harus di tangkap dan lain-lain”.

4. Kemampuan Fisik
            Anita J. Harrow “Kemampuan fisik adalah kemampuan untuk memfungsikan system organ tubuh dalam melakuka gerak tubuh”. Dalam olahraga sepak bola kemampuan fisik sangat dituntut untuk mencapai puncak prestasi yang optimal, apabila peamain sepak bola tidak mempunyai kemampuan fisik bagus maka  pemain sepak bola fatal dalam meraih puncak prestasi yang optimal. Ada 10 komponen-komponen kondisi fisik yaitu sebagai berikut:
a.      Kekuatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air  bahwa kekuatan 60 %. Kekuatan adalah komponen kondisi fisik yang menyangkut masalah kemampuan seorang atlet saat mempergunakan otot-ototnya menerima beban dalam waktu kerja tertentu Sajoto (1995:8). Dalam permainan sepak bola  seorang striker  yang melakukan free kick dengan kuat. menggunakan otot-otot yang ada pada kaki, dan untuk mendapatkan kekuatan yang kuat otot-otot tersebut harus di latih yaitu dengan naik turun bangku.
Kualitas kekuatan dalam pertandingan ini adalah sedang karena dalam pertandingan ini tensi pertandingan ini adalah persahabatan, jadi para pemain enggan untuk menghabiskan semua kemampuannya serta kedua tim banyak menurunkan pemain pemain mudanya.
b.      Daya Tahan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air bahwa daya tahan 60 % digunakan oleh pemain sepak bola. Sajoto (1995:8) Mengemukakan bahwa “Daya tahan ada dua yaitu: 1). Daya Tahan Umum (general endurance) adalah kemampuan seseoarang dalam mempergunakan sistem jantung, pernapasan dan peredaran darahnya secara efektif dan efesien dalam menjalankan kerja terus menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot-otot besar dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. 2). Daya Tahan Otot (lokal endurance) adalah daya tahan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok otot-ototnya untuk berkontraksi terus menerus dalam waktu relatif cukup lama dalam beban tertentu. Olahraga sepak bola dimainkan sampai 2 babak yaitu 2 x 45 menit dengan waktu yang lama dan gerakan yang berulang-ulang,  daya tahan pemain sepak bola harus bagus kalau tidak pemain akan merasa lelah dan kekalahan yang diperoleh.
Kualitas daya tahan dalam pertandingan ini adalah sedang karena dalam pertandingan ini tensi pertandingan ini adalah persahabatan, jadi para pemain enggan untuk menghabiskan semua kemampuannya serta kedua tim banyak menurunkan pemain pemain mudanya.kualitas daya tahan terlihat dengan semakin banyak nya pergantian pemain yang dilakukan.itu menandakan kualitas daya tahan yang sedang.
c.       Power
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air Bahwa 60 % Power di gunakan dalam olahraga sepak bola. Power adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, dengan usahanya yang dikerahkan dalam waktu sependek - pendeknya. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa daya ledak otot atau power = Kekuatan atau Force x Kecepatan atau Velocity (P = F x T). Seperti gerak dalam tolak peluru, lompat tinggi dan gerakan lain yang bersifat explosive (Sajoto, 1995:8-9). Dalam olahraga sepak bola seorang senter bek melompat  untuk melakukan heading bola, bek tersebut melompat dengan tinggi dan cepat.  power dapat otot tungkai dapat dengan fron squat, skiping, dll.
Kualitas power dalam pertandingan ini adalah sedang hali ini terlihat pada pemain yang tidak mampu melakukan lari mendadak saat bola dihadapannya.mereka kelihatan sangat tidak cepat dan kuat. Hal  ini mungkin dipenagruhi oleh suasana pertandingan yang tidak resmi.
d.      Kecepatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air Bahwa 60 % Kecepatan di gunakan dalam olahraga sepak bola. Kecepatan sangat dibutuhkan dalam olahraga sepak bola dalam melakukan teknik sepak bola, seperti seorang playmaker  melakukan over wallpass bola dengan cepat kemudian menshooting bola kearah gawang apabila pemain tidak cepat maka bola akan mudah di baca oleh lawan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sajoto (1995:9) mengatakanKecepatan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singakatnya. seperti dalam lari cepat, pukulan tinju, balap sepeda, panahan, dan lain-lain Dalam masalah kecepatan ini, ada kecepatan gerak dan kecepatan explosif”.
Kualitas kecepatan dalam pertadingan berada pada posisi sedang ,namun ada beberapa pemain muda yang memiliki kecepatan yang bagus,tapi kalau dirata ratakan semuan nya juga dalam posisi sedang.


e.       Kelentukan
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air 60 %  kelentukan digunakan dalam olahraga sepak bola. Kelentukan sangat berperan dalam olahraga sepak bola pada saat pemain menyundul bola kelentukan pinggang sangat dibutuh untuk melakukan heading bola..Kecepatan adalah efektivitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk melakukan segala aktifitas dengan penguluran tubuh yang luas (Sajoto,1995:9).
Kualiatas kelentukan dalam hal ini terlihat saat pemain melakukan teknik lemparan bola kedalam.kategorinya rata ratanya adalah sedang.
f.        Kelincahan
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air  60 %  kelincahan digunakan dalam olahraga sepak bola pada saat pemain sepak bola bergeser kiri dan bergeser kekanan untuk melakukan pasing bola dan pada saatberlari menggiring bola kearah lawan. seorang pemain sepak bola mampu bergerak berbagai arah dengan cepat, berlanjut dan berulang tanpa kehilangan keseimbangan dengan mudah mengubah arah untuk melakuan pasing bola dan memberi umpan bola kapada kawan. Menurut Sajoto (1995:9) bahwa “Kemampuan seseoarang untuk mengubah posisi di area tertentu, seseorang yang mampu mengubah satu posisi yang berada dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup baik”.
Kualaitas kelincahan dalam pertandingan ini adalah sedang, terlihat dengan banyak nya pemain yang sangat lambat dalam hal merubah arah lari namun ada beberapa pemain yang memiliki tingkat kelincahan yang baik.
g.      Koordinasi
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air bahwa 60 %  kelincahan digunakan dalam olahraga sepak bola pada saat gelandang mengumpan bola maka pemain yang lain bergerak sesuai arah dan posisinya  dan membuka ruang atau celah agar mempermudah gelandang dalam megumpan bola sehingga terjadi gol. Menurut Sajoto (1995:9) “Koordinasi kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerak yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif”.
Kualitas koordiansi dalam pertandingan ini adalah sedang hal ini terlihat jelas saat pemain tidak mampu menanduk bola yang datang kearahnya,dikarenakan tingkat koordinasi mata dengan anggota gerak sangat sedang.

h.      Keseimbangan
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air  bahwa 60 %  keseimbangan digunakan dalam olahraga sepak bola pada saat pemain mendarat setelah melompat dalam melakukan teknik heading dan tidak tergelincir, pemain yang melakukan heading bola tidak jatuh dan mudah mengendalikan tubunya. Di bidang olahraga sepak bola banyak hal yang harus dilakukan oleh pemain dalam masalah keseimbangan ini, baik dalam menghilangkan ataupun mempertahankan keseimbangan. Pemain sepak bola yang mempunyai keseimbangan yang bagus jarang mengalami cedera dan pemain yang tidak mempunyai keseimbangan yang baik sering sekali mendapat cedera. Menurut Sajoto (1995:9) “Keseimbangan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan organ organ syaraf otot, seperti dalam hand stand atau dalam mencapai keseimbangan sewaktu seseorang sedang berjalan kemudian terganggu (misalnya tergelincir dan lain-lain)”.
i.        Ketepatan
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air  bahwa 60 % ketepatan digunakan dalam bermain sepak bola pada saat pemain sepak bola melakukan passing, pemain yang melakukan passing umumnya membuka jalur permainan sehingga dengan mudah melakukan passing atau over. Ketepatan pemain dalam melakukan shooting bola kearah gawang harus akurasi sehingga menghasilkan gol. “Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan-gerakan bebas terhadap suatu sasaran, sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu obyek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bidang tubuh”. (Sajoto, 1995:9).
j.        Reaksi
            Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air bahwa 60 % Reaksi digunakan dalam bermain sepak bola. Misalnya saat gelandang mengumpan dengan umpan lambung maka seorang pemain bereaksi dengan mengejar bola tersebut dengan cepat. Menurut Sajoto (1995:10) bahwa “Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau feeling lainnya seperti dalam mengantipasi datangnya bola yang harus di tangkap dan lain-lain”.

5. Keterampilan Gerak
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat Studio 86 Vs Psj Pagar Air  . Bahwa passing 75%, dribling 60 %, shooting 60 % controlling 60 % heading 50 %, throwin 40%, teknik penjaga gawang 60%. Selanjutnya di rata ratakan. Keterampilan gerak dalam permainan sepak bola yaitu 95 %. Menurut Anita  J. Harrow keterampilan gerak  ialah “ Gerak mengikuti pola atau bentuk tertentu memerlukan koordinasi kontrol sebagian atau seluruh tubuh yang dapat  dilakukan melalui proses belajar”. Dalam olahraga sepak bola keterampilan gerak atau teknik dasar sepak bola merupakan pondasi dalam permainan sepak bola, untuk mencapai Prestasi yang optimal  dalam olahraga sepak bola pemain harus memiliki teknik dasar yang baik.

6. Komunikasi Non Diskursif
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada saat pemain             sepak bola melakukan latihan dilapangan sepak bola Mata Ie . Bahwa gerak ekspresif 90% dan gerak interpretif 10 %. Dalam olahraga sepak bola gerak ekspresif yang dilakukan adalah gerak tangan pemain untuk memberikan kode kepada kawan untuk membuka ruang agar mudah mengumpan atau melakukan passing, biasanya pemain memberikan isyarat-isyarat tertentu sesuai dengan strategi yang digunakan untuk meyerang. begitu juga dengan gerak interpretif gerak yang menggunakan kedipan mata dan geleng kepala dalam hal memberikan isyarat anatara pemain saat berlangsungnya permainan. Menurut Anita J. Harrow komunikasi non diskursif ialah “  komunikasi melalui prilaku gerak tubuh”.