KEBOSANAN PADA ATLET ATLETIK
NOMOR LARI 400 METER
A.
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Saat ini perkembangan olahraga sangat pesat baik
di media massa maupun di dunia nyata,
baik di bidang prestasi, kondisi fisik, sarana dan prasarana serta
hadiah yang diberikan oleh pemenang yang mendapat mendali emas. Terlepas dari
itu semua, penulis ingin membahas masalah yang sering muncul dalam dunia
olahraga khususnya pada cabang olahraga atletik nomor lari 400 meter, tentang boredom (bosan) pada seorang atlet saat
sedang menjalani proses latihan dan akhirnya atlet tersebut memilih cabang
olahraga yang lain. Hal ini bukan saja terjadi pada atlet atletik saja, masih
banyak atlet lain yang mengalami keadaan seperti ini.
Salah
satu yang mendorong atlet atletik nomor lari 400m tersebut memilih cabang
olahraga lain adalah minatnya. Minat merupakan keinginan untuk memilih kegiatan
tertentu yang lebih menarik perhatiaannya. Adanya minat pada atlet mennunjukkan
perhatian yang lebih besar terhadap olahraga tersebut dari pada nonton TV,
jalan-jalan dll. Sekarang tugas pelatih bukan hanya memahami gejolak emosional
yang terjadi pada atlet tetapi harus dapat memberikan perlakuan-perlakuan
terhadap atlet agar gejolak emosionalnya tetap terkendali, sehingga atlet dapat
menguasai diri dalam keadaan bagaimanapun, dan membuat atlet atletik tersebut
tetap pada cabang olahraga yang ia tekuni. Jika suatu latihan yang atlet tekuni
sudah tidak menarik dan membosankan atlet tersebut akan memilih cabor yang
lebih menarik lagi, sehingga hal ini memerlukan perhatian khusus jika seorang
pelatih tidak ingin kehilangan atletnya maka ia harus memahami kondisi yang
dialami oleh atletnya.
Berbicara soal kondisi, semua atlet
memiliki kriteria yang berbeda-beda. Pelatih bukan hanya memberikan latihan
secara fisik saja tetapi harus mengerti keadaan psikologi yang dialami oleh
atletnya, agar tidak terjadi kebosanan dan akhirnya menjadi kelelahan. Kelahan
dibagi 2 yaitu: kelelahan mental dan kelalahan otot. Kelelahan mental dapar
diperbaiki dengan cara memberika para atlet rekreasi atau refresing untuk penyegaran
tubuh mereka kembali, sedangkan kelelahan otot tidak sama seperti kelelahan
mental karna apabila terjadi kelelahan otot memerlukan waktu yamg lama dalam
pemulihan. Sebab apabila dipaksa secara trus menerus mengakibatkan terjadinya
cedera. Dan akhirnya atlet merasa tidak mampu dalam mencampai prestasi yang
diinginkannya.
Disini penulis lebih memfokuskan pada
topik “boredom(bosan)”. Menurut Setyobroto (2002:96)
mengemukakan bahwa “boredom adalah
perasaan jemu atau bosan dalam olahraga sehingga atlet tidak menunjukkan minat
dan gairah dalam melakukan latihan ataupun pertandingan”. Bosan dapat timbul
apabila latihan yang diberikan kurang bervariasi, sasaran latihan lebih terarah
pada kemampuan fisik. Kita ketahui bahwasannya, Minat bukanlah hal yang bersifat
tetap sehingga dapat berubah sewaktu-waktu dan lebih tertarik pada objek yang
lain. Timbulnya bosan inilah yang menjadi bahan penulis untuk dapat
didiskusikan.
B.
PEMBAHASAN
1.
Boredom (Jemu) Pada Atlet atletik nomor
lari 400m.
Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang mendasari
cabang olahraga yang lain dan disebut juga induk dari seluruh cabang olahraga.
Sebutan tersebut adalah sangat mendasar, karena dalam setiap cabang olahraga,
cabang atletik menjadi dasar dari unsur gerak dan penampilannya seperti jalan,
lompat dan lempar. Menurut Abdullah (1985:39) bahwa:
Atletik yang meliputi lari, lempar dan lompat
boleh dikatakan sebagai cabang olahraga yang paling tua. Karena umur olahraga
atletik sama tuanya dengan mulai adanya manusia. Manusia di bumi ini, lari,
lempar, dan lompat adalah merupakan gerakan-gerakan yang amat penting serta
tidak ternilai artinya bagi manusia, manusia pertama sudah harus berlari
melempar dan melompat untuk mempertahankan hidupnya.
Disini penulis memfokouskan kepada atletik
nomor lari. Macam-macam lari yang dapat kita lihat adalah: a. Lari jarak
pendek, b. Lari jarak menengah, c. Lari jarak jauh, d. Lari halang rintang dan
e. lari estafet
a.Lari Jarak Pendek
Lari jarak pendek adalah berlari dengan kecepatan
penuh sepanjang jarak yang harus ditempuh, atau sampai jarak yang telah ditentukan. Lari
jarak pendek terdiri dari lari 100m, 200m, 400m. Secara teknis sama. yang membedakan hanyalah
pada penghematan penggunaan tenaga, karena perbedaan jarak yang harus ditempuh.
Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin banyak tenaga yang harus dibutuhkan. Gerakan lari jarak pendek dibagi
menjadi tiga tahap ialah: star, gerakan lari cepat (sprint), gerakan
finis.
Start
Dalam perlombaan
lari, ada tiga cara star, ialah :
- star berdiri (standing start)
- star jongkok (crouching start)
- start melayang (flying start) dilakukan hanya untuk pelari ke II, III
dan IV dalam lari estapet 4 x 100 m.
b.Lari Jarak Menengah
Gerak lari jarak
menengah (800 m- 1500 m) dan sedikit berbeda dengan gerakan lari jarak pendek
.terletak pada cara kaki menapak. Lari jarak menengah, kaki menapak ball
hell-ball, ialah menapakkan pada ujung kaki tumit dan menolak dengan ujung
kaki. Star dikakukan dengan cara berdiri.
Yang perlu diperhatikan pada lari
jarak menengah.
>>badan harus selalu rilaks
atau santai.
>>Lengan diayun dan tidak
terlalu tinggi seperti pada lari jarak pendek.
>>Badan condong ke depan kia-kira 15º
dari garis vertica.
>>Panjang
langkah tetap dan lebar tekanan pada ayunan paha ke depan, panjang langkah harus
sesuai dengan panjang tungkai.
Angkat lutut cukup tinggi (tidak
setinggi lari jarak pendek). Penguasaan
terhadap kecepatan lari (pace) dan kondisi fisik serta daya tahan tubuh
yang baik. Dalam lari jarak menengah gerakan
lari harus dilakukan dengan sewajarnya, kaki diayunkan ke depan seenaknya,
panjang langkah tidak terlalu dipaksakan kecuali menjelang masuk garis finis.
c.Lari Jarak Jauh
Lari jarak jauh dilakukan dalam lintasan stadion
jarak 3000m, ke atas, 5000m, 10.000m, sedangkan marathon dan juga cross-country,
harus dilakukan diluar stadion kecuali star dan finis, secara fisik dan mental
merupakan keharusan bagi pelari jarak jauh. Ayunan lengan dan gerakan kaki
dilakuakan seringan-ringannya. Makin jauh jarak lari yang ditempuh makin rendah
lutut diangkat dan langkah juga makin kecil.
d.Lari Halang Rintang
Lari steeple-chase 3000 m termasuk kedalam lari jarak jauh
dengan melalui rintangan-rintangan.
Rintangan itu ada dua macam;
1.Rintangan Gawang
2.Rintangan Air dengan Gawang didepannya (water jump).
Pelari steeple-chase harus memiliki kecepatan seperti pelari
1500m, tetapi juga harus memiliki daya tahan seperti pelari 5000 meter, dan
harus memiliki kemahiran khusus dalam melewati rintangan-rintangan tersebut.
Cara untuk melampaui rintangan
gawang yang banyak digunakan adalah :
(a)Seperti lari gawang biasa,
(b)Melampaui gawang dengan menginjakkan sebelah kaki di atas gawang.
(a). Cara Lari Gawang Biasa
1.Cara seperti lari gawang biasa
banyak digunakan oleh pelari-pelari yang memang memiliki kemahiran dalam lari
gawang dan oleh pelari-pelari yang jangkung yang dengan mudah dapat melangkahi
rintangan gawang. Yang penting adalah setelah pelari melampaui gawang dapat
menjaga keseimbangan sebaik-baiknya untuk melanjutkan larinya. Sangat
dianjurkan agar dapat bertumpu dengan kaki manapun.
2.Cara dengan
menginjakkan kaki di atas gawang digunakan oleh pelari-pelari yang belum mahir
atau belum dapat melakukan cara melangkahi gawang yang baik. Cara ini digunakan
juga pada waktu melampaui rintangan air. Banyak yang menggunakan cara ini
karena persamaannya, sehingga tidak perlu melompati rintangan air, maka setelah
kaki menumpu diatas gawang, tidak perlu menolak dengan kuat melakukan lompatan,
tetapi usahakan agar kaki yang lain secepat mungkin mendarat di tanah untuk
seterusnya melanjutkan lari.
(b). Cara untuk melampaui rintangan air
pada garis besarnya adalah sebagai berikut :
1. Bertumpu dari titik setengah meter di muka gawang rintangan air. Lalu
melompat ke atas atas depan, setelah kakinya menapak di atas gawang pada ujung
kaki.
2. Badan harus dibawa ke muka kaki, kaki yang
bertumpu pada gawang menolak sekuatnya, kaki lainnya diayunkan ke depan
sejauh-jauhnya, dan badan masih dalam sikap sedikit condong ke depan, sehingga
menjadi gerakan melompat
3. Pada saat melayang, tangan digunakan
untuk menjaga keseimbangan badan dan kaki tumpu melakukan gerakan permulaan
untuk persiapan melangkah waktu kaki ayun mendarat.
4. Mendarat dengan kaki ayun sejauh mungkin
mencapai ujung bak air, dan sedikit mungkin masuk dalam air. Kaki yang mendarat
sedikit di tekuk, dan badan tetap dalam keadaan sedikit condong ke depan. Kaki
lainnya diangkat untuk melangkah ke depan.
e.Lari Estafet
Lari sambung atau lari estafet adalah
salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian
atau beranting. Dalam satu regu lari sambung terdapat empat orang pelari, yaitu
pelari pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pada nomor lari sambung ada
kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor pelari lain, yaitu memindahkan
tongkat sambil berlari cepat dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya.
Nomor lari estafet yang
sering diperlombakan adalah nomor 4 x 100 meter dan nomor 4 x 400 meter. Dalam
melakukan lari sambung bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan
penerimaan tongkat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan
kecepatan dari setiap pelari.
Dan
sekarang telah terdapat pusat pembinaan atlet Aceh yaitu (PPLP dan PPLPD). Disana atlet diberikan latihan
seperti latihan fisik, mental, taktik dan strategi. Pelatih yang tidak mengerti
tentang kondisi atlet akan selalu memaksa mereka untuk latihan secara trus
menerus tanpa memperhatikan psikologi atlet sehingga tidak jarang timbul
perasaan bosan dalam diri atlet tersebut. Boredom
adalah perasaan jemu atau bosan. Dapat kita tandai apabila atlet mengalami bosan yaitu minat dan gairah untuk
berolahraga sudah tidak ada. Dan akhirnya keluar dari olahraga pencak silat, Salah
satu fakor yang dapat mendorong atlet melakukan suatu kegiatan dengan bergairah
adalah minatnya. Minat merupakan suatu kecendrungan untuk lebih memperhatikan
dan memilih kegiatan tertentu diantara sejumlah kegiatan atau objek yang lain. Adanya
minat berarti atlet yang bersangkutan menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap
olahraga pencak silat tersebut sesuai dengan minatnya daripada
kegiatan-kegiatan lain seperti melihat sandiwara,bioskop,acara santai dan
sebagainya.
Minat
bukanlah hal yang bersifat tetap jadi dapat berubah apabila pada suatu waktu
atlet pencak silat lebih tertarik minatnya pada obyek atau kegiatan lain. Boredom merupakan gejala menurunnya
minat atlet sehingga atlet yang mengalami boredom
atau rasa jemu akan menunjukan gejala malas berlatih atau menjadi kurang
bergairah dalam latihan-latihan.
Bosan terjadi pada diri atlet apabila
latihan-latihan kurang berpariasi, sasaran latihan lebih terarah pada
peningkatan kemampuan fisik semata-mata dan kurang perhatian terhadap aspek
psikologi atlet, khususnya mengenai minat dan motivasinya. Boredom biasanya timbul
apabila latihan diberikan secara paksaan semata-mata, tanpa terlebih dahulu
memberikan pengertian dan pemahaman terhadap program-program latihan sehingga
atlet kurang memahami arti pentingnya latihan tersebut bagi dirinya dalam upaya
mencapai prestasi setinggi-tingginya. Gejala boredom apabila tidak diperhatikan dapat meningkat lebih lanjut
sehingga bukan sekedar merasa jemu atau bosan tetapi merasa lelah,sama sekali
tidak ada minat dan gairah: ini merupakan gejala timbulnya “Fatigue” pada diri
atlet.
Mengenai
fatigue atau kelelahan dapat dibedakan atas (1).“Physical Fatigue” atau
kelelahan fisik, (2).“Mental Fatigue” atau kelelahan mental.
1. “Physical
Fatigue” atau kelelahan fisik: atlet yang bersangkutan mengalami kelelahan
otot-ototnya sehingga tidak dapat melakukan aktivitas fisik dengan
baik,ketrampilannya menurun, banyan melalukan kesalahan.Apabila dipaksa untuk
terus melakukan aktivitas fisik dengan beban latihan yang lebih meningkat lagi
maka dapat menimbulkan gangguan yang berupa kejang otot,kram,badannya
lemas,tidak mampu bergerak dan sebagainya.
2. “Mental fatigue” atau kelelahan mental:
atlet yang bersangkutan merasa lelah meskipun kalau diukur ketegangan
otot-ototnya atau melalui tes asam laktat hasilnya tidak menunjukkan
tanda-tanda kelelahan.Jadi hanya secara psikologi ia merasakan kelelahan.Akibat
terjadinya mental fatigue tersebut atlet menunjukkan penampilan yang lamban, lesu,
reaksinya kurang cepat,dan sebagianya seolah-olah hilang kemampuannya untuk
dapat bermain seperti sediakala.
Atlet pencak silat yang mengalami physical fatigue perlu
beristirahat cukup lama karena fisiknya mengalami kelelahan.Atlet yang
mengalami mental fatigue tidak perlu istirahat, tetapi yang lebih penting
adalah mengalihkan aktivitasnya pada kegiatan lain yang dapat menarik minatnya.
Sehingga timbul gairah untuk melakukan aktivitas fisik yang menunjang
peningkatan prestasinya.
Yang mengalami mental fatigue dapat
diajak rekreasi dipantai atau pergi kegunung melakukan olahraga yang bermanfaat
untuk menguatkan otot-ototnya,cross country,dan sebagainya.Yang terpenting
memberikan acara latihan yang berguna
untuk menguatkan otot-ototnya dan kemampuan fisiknya,yaitu dengan
kegiatan yang menarik minat dan menimbulkan motivasi baru agar dapat berlatih
lebih giat lagi.
2.
Upaya Mengatasi Boredom dan Fatigue
Pada Atlet atleti nomor lari
Menghadapi boredom dan fatigue yang biasa timbul dalam
pemusatan latihan yang dilaksanakan dalam waktu cukup panjang atau (pelatnas
jangka panjang) dibutuhkan kreativitas dari latihan, khususnya dalam membuat
program latihan yang bervariasi. Boredom
dan fatigue mudah timbul apabila
atlet diberi latihan dalam suasana penuh ketegangan, kurang relaks, kurang
senda gurau atau humor dan latihannya itu-itu saja (kurang variasi). Jelas
sekali pelatih yang baik harus menguasai metode kepelatihan dan dapat membuat
variasi-variasi sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi atlet yang dibina.
Disamping
penguasaan metode melatih, pelatih juga perlu menguasai didaktik (memahami
kondisi psikologi atlet). Penguasaan
metode melatih akan menjamin penguasaan ketrampilan, tentu dengan cara-cara
yang benar efisien dan tidak menimbulkan bahaya (cedera): dengan menguasai
didaktik maka pelatih dapat selalu menarik minat para atlet, tidak mengabaikan
minat dan kebutuhan atlet yang dibina serta selalu menjaga hubungan yang
harmonis, akrab tetapi pelatih cukup berwibawa dimata atletnya.
Gejala
baredom dan mental fatigue yang dialami atlet atletik nomor
lari 400m menunjukkan menurunnya motivasi yang sangat penting artinya dalam
upaya pembinaan talet. Sebagaimana dikatakan Singer (1986) “pengalaman menunjukkan bahwa cukup banyak atlet
berbakat hilang ditengah jalan karena pelatih tidak bisa menimbulkan motivasi”.
Tanpa memiliki motivasi disamping timbul rasa jemu juga timbul gejala-gejala
lain seperti hilangnya minat dan kegairahan, frustasi karena tidak bisa
mencapai apa yang diharapkan,rasa putus asa dan akhirnya meninggalkan olahraga.
Untuk mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan
tindakan-tindakan antara lain :
1.
Menimbulkan harapan baru, yaitu dengan cara menunjukkan sasaran untuk dicapai
sesuai dengan kemampuan atlet yang bersangkutan. Setiap atlet membutuhkan
kepuasan karena dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari yang sudah di
capainya dan lebih puas lagi apabila mendapat penghargaan atas apa yang
dicapai tersebut. Tehnik ini sesuai dengan tehnik menimbulkan motivasi yang dikenal
dengan “Goal Setting”.
2.
Menimbulkan rasa mampu dan
percayadiri; ada kalanya prestasi atlet seolah-olah berhenti pada tingkatan tertentu sedangkan
kemampuannya seharusnya ia dapat mencapai prestasi lebih tinggi dari apa yang
dicapainya.Pelatih harus pandai mengamati segi-segi positif atau
kemampuan-kemampuan dan kelebihan-kelebihan atlet yang bersangkutan,digunakan
untuk menimbulkan rasa percaya diri bahwa dengan latihan lebih intensif pasti
atlet tersebut mencapai prestasi lebih
tinggi; misalnya dengan mengetahui kecepatan sibakan kaki dan kekuatan kayuhan
tangan perenang,maka pelatih dapat memberikan penjelasan bahwa kemampuan
kayuhan tangan perenang tersebut lebih bagus dari perenang lain, oleh rakena itu dengan
melakukan latihan lebih intensif pada gerakan kaki dan kayuhan tangan pasti
prestasinya akan meningkat.
3.
Tehnik menimbulkan motivasi
dengan memberikan tantangan juga merupakan salah satu cara yang dapat digunakan
untuk memacu atlet mencapai prestasi lebih tinggi.Sehingga rasa jemu ataupun
kelelahan mental dapat dikurangi karena
adanya tantangan yang berupa target-target yang perlu dikejar.Ini hanya dapat
dilakukan dengan baik melalui pendekatan psikologi.
4.
Sistem “Reward dan Punlshment”
atau pemberian penghargaan dan hukuman
juga dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi;hendaknya pelatih lebih
mengutamakan cara,pemberian penghargaan yang dapat dilakukan dengan berbagai
cara seperti memberikan pujian,acungan jempol,memberi nilai yang lebih dari apa
yang dicapai,memberikan tanda-tanda yang menunjukkan kenaikan kelas atau
tingkat (seperti bela diri) dan sebagainya.Hukuman hendaknya sejauh mungkin
dihindarkan kecuali kalau betul-betul diperlukan dan biasanya hanya dapat
diterapkan pada atlet yang mempunyai sifat-sifat tertentu,seperti sifat tidak
tersinggung,terbuka,suka humor,dan sebagainya.
Jadi penulis mengambil kesimpulan dari pemahaman diatas bahwasannya,
Untuk
mengatasi menurunnya motivasi dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti: Menimbulkan harapan baru, Menimbulkan rasa mampu
dan percayadiri, menimbulkan motivasi dengan memberikan tantangan, dan pemberian
penghargaan.
Diatas telah dijelaskan bahwa atlet yang telah timbul rasa bosan apabila dibiarkan
akan timbul rasa jenuh dan rasa jenuh ini apabila dibiarkan juga akan timbul
perasaan atlet merasa tidak mampu (staleness) untuk mencapai prestasi yang
diharapkan,yang sebenarnya ia dapat mencapainya. Staleness yang dialami
atle pencak silatt ditandai dengan tingkah laku kurang relaks, selalu
diliputi ketegangan dan sebagainya; sebagai mana yang dipaparkan
oleh (Setyobroto,2002:100) yang apabila dirinci dapat
dikelompokkan dalam gejala psikologi dan fisiologik sebagai berikut :
(1). Gejala fisiologik pada steleness yang antara lain :
a)
Napsu makan kurang atau
sebaliknya sebagai penyaluran ketidak puasannya justru makan berlebihan, b) Gangguan pada
pencernaan kadang-kadang merasa sakit perut,sukar kebelakang dan sebagainya,c) tidak dapat tidur
nyenyak, bangun tidak teratur, kadang-kadang terlalu cepat dan tidak bisa tidur
lagi, d)sering
merasa pusing dan sebagainya.
(2). Gejala psikologik pada steleness :
1.
Kurang relaks atau selalu
kelihatan tegang
2.
Sering kelihatan bimbang ragu
menghadapi tugas latihan.
3.
Mudah tersinggung
4.
Merasa seluruh badan
lelah,kehilangan ketelitian,kehilangan konsentrasi dan sebagainya.
C.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Boredom
atau kebosanan dapat membuat seorang atlet atletik pindah dan memilih cabang
olahraga lainnya yang lebih menarik dari pada latihan yang ia tekuni
sebelumnya, hal itu disebabkan dari proglam latihan yang membosankan/kurang
bervariasi dan tegang. sehingga semakin lama dibiarkan atau tidak diatasi maka
akan berubah menjadi jenuh yang mengakibatkan cedera pada mental dan fisik
atlet atletik nomor lari binnaan Diklat dan setelah itu atletpun akan timbul
perasaan bahwasannya ia tidak mampu lagi meraih prestasi yang telah
ditargetkan.
DAFTAR PUSTAKA
Djaali. (2011), Psikologi Pendidikan. Jakarta, PT. Bima Aksara
Gunn. (2007), Fear Is Power. Jakarta, PT. Bima Aksara
Sudibyo Setyiobroto. (2002 ), Psikologi
Kepelatihan. Jakarta, PT. Bima Aksara
http:/Psikologi
Olahraga.com