fakhrullah clock

Rabu, 22 Mei 2013

Pendidikan Jasmani China Kuno


China Kuno tahun 2500 SM.
·         Pendidikan Jasmani dilakukan oleh kepala keluarga bersifat peniruan.
·         Tahun 1122 – 249 BC pendidikan serasi _ pendidikan memadukan aspek fisik dan psikis.
·         Pendidikan terhambat karena munculnya ajaran Taoisma, Budhisme, Confusianisme akibatnya pendidikan jasmani hanya untuk militer.
·         Latihan jasmani di kalangan militer : renang, dayung, tinju / kuntauw, mengendarai kuda, memanah, tari-tarian.Biasanya untuk memanah dan tari-tarian hanya untuk upacara resmi.
·         Dinasti Chu (1115 BC) ada College of The East, yang mengajarkan empat hal : Upacara/ritual, Tari dan Musik, Mengendarai kereta perang untuk pemuda mulai umur 15 tahun, Upacara penerimaan kopiah dari ortu.

Pendidikan jasmani di china

Model Pendidikan jasmani di china adalah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani dengan menggunakan berbagai aktivitas jasmani yang bertujuan untuk mengembangkan kesehatan individu. Kesehatan yang dimaksud merupakan kesehatan yang berhubungan dengan kebugaran jasmani (health related physical fittness), bukan merupakan kesehatan secara medik (patologi dan disfungsi organ dalam). Namun demikian bahwa dengan meningkatnya kebugaran jasamani akan dapat meningkatkatkan sistem imunitas tubuh, dan dengan tingkat kekebalan yang baik maka penyakit akan susah masuk bisa saja dapat dihubungkan, serta yang tidak tertutup kemungkinannya adalah dilakukannya rehabilitasi dan revalidasi sistem organ tubuh.
Pendidikan jasmani upaya penting yang sangat diperlukan untuk mencapai hidup sehat, yaitu aktivitas jasmani dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara menyeluruh, maka landasan keilmuan utama adalah paedagogis (pendidikan anak) menyangkut didaktik-metodik, selain ilmu penunjang lain tentunya, misalnya tentang perkembangan gerak, pembelajaran gerak, tes danpengukuran performa, dan lain-lain sebagai kelompok ilmusosiokinetika. Bentuk dan tata cara melakukan, bentuk aktivitas pendidikan jasmani adalah terutama berupa gerak-gerak pengembangan polagerak dasar (fundamental movements patern), atau bahkan berbagai cabang olahraga, aktivitas rekreatif, dan tari, tetapi diadaptasi sedemikian rupa sehingga tujuan utama pendidikan terpenuhi.
Di kawasan asia timur adanya pendidikan prestasi melalui pendidikan jasmani dalam mendidik untuk meningkatkan prestasi olahraga. Walau pendidikan jasmani di sekolah bukanlah bertujuan menelurkan olahragawan prestasi, di lembaga itulah dibentuk dasar olahraga, yaitu pengajaran keterampilan gerak yang benar, motivasi berolahraga yang tinggi, dan identifikasi bakat sedini mungkin. Melalui peningkatan peran pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah, pola pembinaan dan pembibitan dalam olahraga dimulai.
Pendidikan jasmani mampu membangunan karakter bangsa, tentang peran kritis olahraga terhadap generasi muda dalam pembangunan dan pemberdayaan karakter kebangsaan yang positif. Sehubungan bahwa generasi muda adalah komponen bangsa yang paling rentan dalam proses internalisasi tata nilai dan budaya. Di kawasan asia timur peranan olahraga terhadap pembangunan karakter bangsa secara khusus, akan diberikan tentang peran kritis olahraga terhadap generasi muda dalam pembangunan dan pemberdayaan karakter kebangsaan yang positif, yang menunjang pada kemandirian bangsa.
Pendidikan jasmani mampu memandirikan bangsa di tengah terpaan arus globalisasi serta mampu mempertahankan kesatuan bangsa. Pendidikan jasmani merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai  yang berkembang dalam kehidupan. Proses pendidikan jasmani mengarahkan pada pembentukan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik, mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi peserta didik. Dikawasan asia timur tugas pendidikan jasmani dalam konteks ini membantu mengkondisikan pesera didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Seiring dengan perkembangan global pergeseran orientasi pendidikan jasmani dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Akhir-akhir ini pentingnya aktivitas pendidikan jasmani dan olahraga dikawasan asia timur, seperti negeri china yaitu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebugaran jasmani, serta dampaknya terhadap pembentukan tubuh yang lebih baik dan proporsional semakin disadari terkait dengan kehidupan manusia yang dikelilingi oleh teknologi berupa perangkat-perangkat yang didesain dan diciptakan agar kegiatan kita serba mudah dan praktis, tanpa mengeluarkan banyak energi.
Kemajuan dalam bidang teknologi menyebabkan aktivitas hidup menjadi lebih mudah dan sederhana. Pada sisi lain sering terabaikan upaya penting yang sangat diperlukan untuk mencapai hidup sehat, yaitu aktivitas jasmani dalam kehidupan sehari-hari. Relevansi olahraga dalam kehidupan masyarakat yang menggunakan teknologi tinggi untuk menanggulangi dampaknya yang menimbulkan kecenderungan perilaku masyarakat yang memiliki gaya hidup kurang aktif atau kurang gerak dalam kegiatan kehidupan sehari-hari.
Untuk membentuk karakter masyarakat agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas, selain sebagai media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial),  serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Selain tujuan utama tersebut dimungkinkan adanya tujuan pengiring, tetapi porsinya tidak dominan.
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara menyeluruh, maka landasan keilmuan utama adalah paedagogis (pendidikan anak) menyangkut didaktik-metodik, selain ilmu penunjang lain tentunya, misalnya tentang perkembangan gerak, pembelajaran gerak, tes danpengukuran performa, dan lain-lain sebagai kelompok ilmusosiokinetika. Bentuk dan tata cara melakukan, bentuk aktivitas pendidikan jasmani adalah terutama berupa gerak-gerak pengembangan polagerak dasar (fundamental movements patern), atau bahkan berbagai cabang olahraga, aktivitas rekreatif, dan tari, tetapi diadaptasi sedemikian rupa sehingga tujuan utama pendidikan jasmani terpenuhi. Misalnya, bisa saja pendidikan jasmani menggunakan cabang olahraga bolavoli sebagai unit aktivitasnya, tetapi bolavoli yang telah dimodifikasi dan diadaptasi sedemikian rupa, sehingga pola gerak dasar akan berkembang, tertanam jiwa sportif,  sertanilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Sejalan dengan masyarakat tumbuh lebih maju dan hidup menjadi lebih mudah. Aktivitas-aktivitas itu sering tumbuh dari keterampilan kemampuan bertahan lebih awal (seperti berlomba memanah dan berlari), tetapi mereka diharapkan lebih untuk anak-anak atau untuk orang dewasa sebagai hiburan (entertainment). Sejalan dengan perkembangan pertandingan dan olahraga, pertandingan menjadi letusan awal aktivitas-aktivitas luar di masyarakat. Walaupun perbedaan disebabkan oleh iklim, adat istiadat setempat, dan bahan alam yang tersedia, pertandingan itu berkembang di seluruh dunia yang pada dasarnya serupa, untuk mereka sering berfungsi sebagai metoda pelatihan dalam keterampilan.
Karakter pendidikan jasmani dikawasan China berubah dengan kemunculan pola budaya lebih rumit. Sejalan dengan tumbuhnya peradaban, dunia bergerak lebih dekat ke konsep negara bagian. Kelompok besar orang yang karakteristik serupa yang dibagi bersama (seperti kelompok rasial, bahasa, khusus, dan modus hidup) mengembangkan bentuk dan para pemimpin pemerintahan. Dibandingkan tujuan pendidikan terutama pendidikan jasmani dalam kultur primitif, kearah kemampuan bertahan dari individu dan kelompok, negara bagian mengorientasikan proses bidang pendidikan ke arah negara bagian lain dan kemampuan bertahan dan sering juga ke arah ekspansi mereka.
Karakteristik penting dari aktivitas-aktivitas fisik primitif adalah keterampilan kemampuan bertahan, keterampilan perlu untuk pertahanan melawan musuh. Dengan cara sama, olahraga secara esensial 'olahraga bertahan, " atau " olahraga alami, untuk banyak dari aktivitas-aktivitas olahraga mempunyai sumber dasar keterampilan yang sama yaitu aktivitas-aktivitas fisik.
Aktivitas-aktivitas olahraga orang primitif masuk ke kategori pertandingan dan aktivitas-aktivitas tarian mencakup, hal yang sangat penting pada kultur awal. Tiga jenis pertandingan primitif adalah pertandingan kesempatan, pertandingan keterampilan serta pertandingan anak-anak. Pertandingan keterampilan dimasukkan dalam pertandingan seperti seni memanah, simpai dan kutub, dan ular salju. Meskipun sering sebagian kompetisi besar antara dua atau lebih banyak orang dalam. suatu desa atau suku bangsa, beberapa telah diselenggarakan antara desa dan suku bangsa berbeda. Sebagian besar ini adalah pertandingan secara kasar serupa dengan permainan pakai bola dan tongkat atau sepakbola modern.
Ketika kita memperhatikan awal pembentukan olahraga yang digunakan oleh orang primitif dalam Budaya Barat (Prasejarah Eropa), kita sering melihat satu basis menyukai perang untuk aktivitas-aktivitas. Sukses di olahraga memerlukan penguasaan keterampilan dasar peperangan. Kita secara tradisional mempertimbangkan basis suka perang dari olahraga sebagai ciri umum, tetapi itu bukan benar untuk semua masyarakat primitif. Bagaimanapun, sesungguhnya olahraga primitif bukan hanya selalu suka perang atau berorintasi peperangan , itu telah diambil dengan serius.

KESIMPULAN
1.      Guru memberikan kebebasan pada siswa untuk mengelola pelajaran.
2.      Sekolah-sekolah mendapat kebebasan secara otonomi untuk mengelola pendidikan  jasmani tetapi tetap mengacu pada kebijakan nasional.
3.       Alokasi waktu dan sarana untuk pendidikan jasmani jauh lebih memadai.
4.       Nilai yang diberikan kepada siswa tidak dalam bentuk angka, tetapi  yang  dilihat  adalah  perubahan  secara  kualitatif.  Jadi  yang  ditonjolkan  adalah  seberapa  jauh    perubahan  atau  kemajuan  yang  telah dicapai oleh siswa.
5.      Pendidikan jasmani dapat berfungsi sebagai sarana kesehatan, prestasi dibidang olahraga, mencetak karakter bangsa, dan mampu memandirikan bangsa di tengah arus globalisasi.

Introduction To Motor Skill Learning



CAHPTER 2.1
Learning can be inferred practice observations,

retention test, and transfer test.

Oleh : Fakhrullah,S.Pd,,
Introduction To Motor Skill Learning
Key Term

Performance           transfer test             performance
Learning                   plateau                     variable
Retention test          ceiling effect            learning
                                   Floor effect              variable

Aplication


A typical requirement in any profession involving motor sklii instruction is an assessment to determine whether or not what is taught is learned. Consider the following two examples taken from physical education and rehabilitation settings. Suppose you are a physical aducator teaching a tennis unit. If tou are teaching your student to serve, what will you look for in their service that will help you assess their progress in learning? How can you be certaint that what you are observing is the result of learning and not just luck? Or suppose you are a physical therapist helping a strocke patient to grasp a cup and drink from it. The same question apply here as in the physical aducation teaching situation. That is, what avidence will you look for in  the patient’s performance to assess their progress in  learning this skill? How will you know that the performance characteristics you observe are due to learning and not to other factors, such as luck or your assistance?
These questions relate to an important aspect af learning that must be considered when skill learning is assessed. That is, we must make an inference about learning. We do not directly observe learning. Instead, we directly observe behavior, which in this case is motor performance. It is  from this performance observation that we must determine if the observed behavior reflects learning. Thus, the determination of whether or not a skill has been learned involves a two-part process. Fisrt, there must be observation of performance of the skill under conditions where an appropriate evaluation of learning can take place. Second, there must be a translation of that observation into a meaningful conclusion about learning.
In the discussion that follows, the problem of how to assess learning will be approached from two general directions. First, a difinition of learning will be established. This is a critical step because it is important to know what learning is before attempting to determine how to evaluate whether or not it has taken palce. Then, the focust will shift to considering different ways that the learning inference can be made. The primary cocern will be to establish the appropriate conditions under which performance should be observed. As you will see, when inappropriate conditions are established, inappropriate conclusions about learning usually result. Three learning assessment methodes will be discussed so that you will be able to make confident conclusions about learning.
The importance of making appropriate conclusions about learning can be illustrated in several different ways. For example, if you are a teacher, you will undoubtedly want to base a student’s grade, at least in part, on how well he or she has learned the skill you taught in class. Also, as a teacher you want to know if a particular teaching strategy you use is more effective than an available alternative. The more desirable teaching strategy is the one that leads to more effective learning of the skill being taught. A similar situation exists in physical therapy settings. You would not want to release a patient from therapy without some assurance that the skill you have been learned by the patient to the degree that your assistance is no longer required. And it is important for you to know that the techniques used to help patients learn certaint skill will lead to better learning than other available techniques. Thus, it is essential to keep in mind that anless you are able to confidently assess learning, it is difficult ti derive valid conclusions that are applicable to any of these situations.

Discussion

            Two important terms are important for you to keep distinct in this discussion and throughtout this book: performance and learning. Performance can be thought of most simply as observable behavior. In terms of motor skill, observable behavior are what we see a person do when a skill attempted. Thus, such things as hitting a baseball, running a mile, tracing, throught a maze, drinking from a cup, dancing a waltz, or operating a lathe are examples of observable motor behavior. Each attempt to do any of these skills is a performance. We discussed how we can quantify performances such as these for evaluation purposes in Concept 1.2, where several different motor performance  measures were discribed. Additionally, a performance may include behaviors of greater magnitude than these examples. For example, playing an entire game of basketball may be considered a performance. Again, measures of how a person performed in these situations are available. Thus, the term performance should be thought of as referring to executing a skill at a particular spesific situation.
Learning, on the other hand, is an internal phenomenon that cannot be observed directly; it can only be inferred from the observation of a person’s performance. It is common for us to make  inferences about a person’s internal states based on what we observe them doing. For example, when someone smiles (an observable behavior), we infer that he or she is happy. When someone cries, we infer that he or she is sad, or perhaps very happy. When a person’s face gets red, we believe that person is embarrassed. Notice that in each of these situations, certain characteristics about the individual’s behavior are specifically identified as the basis for making a particular inference about some internal state we cannot directly observe. How ever, because we must make an inference based on observed behavior, it is possible to make an incorrect inference. If a student sitting beside you in class yawns during the lecture, you might infer from that observable behavior that person is bored. However, it may be that he or she is very interested and the yawning is due to being very tired because of lack of sleep the night before. In the same way, then, because we must infer on the basis of observed behavioral characteristics that learning is occurring of has occurred, we must select that most appropriate behavioral characteristics to observe and that observe those characteristic under appropriate circumtances. It is those circumtances that we will consider in this discussion.



Performance Changes during Learning

One of the first question that must be answered in order to assess learning is, What performance characteristics should be identified in order to make an apropriate inference about learning?
Because we expect that performance changes should occur is learning takes place, we can look for key indicators of learning in performance changes. This means that the performance measure, or measures, being observed should show certain distinct changes as the person practices the skill. Two performance characteristic changes are especially important to look for.
First, performance of the skill should show improvement over a period of time. This means that the person can exhibit a greater degree of skill at some later time than at some previous time during which performance of the skill was observed. However, note than  we would expect this improvement should be marked by persistence. That is, the improvement we have observed should last for more than one performance, and should continue over an extended period of time. A person who is judged to have learned something should not only be able to demonstrate the improved performance today, but also tomorrow, next week, and so on. It is important to note that an improvement in performance may not always be directly observable. As will be discussed later, there can be extended periods of time where learning is occurring, but performances of the skill do not show any observable improvement. However, these periods are ussally temporary and should end with noteble improvements in performance. Finally, we must be careful not to limit learning to improvement in performance. There are cases when bad habits result from practice, which in turn result in the observed performance not showing improvement. In fact, performance may actually become worse as practice continues. Because this text is concerned with skill acquisition, though, we will focus on learning as involving improvement in performance.
The second characteristic of learning occurring is that performance becomes increasingly more consistent. This means that trial-to-trial, or attempt-to-attempt performances reveal decreasing variability. Early in practicing a new skill a person is likely to be very inconsistent in performing the skill. On one attempt the measured response may be better than the previous one, whereas on the next attempt it may be worse. Eventually, however, the performance becomes more consistent.
These two characteristic of performance changes during learning both are important in making inferences about learning, and are also closely interrelated. The first characteristic in is concerned with the improvement in performance and the persistence of that improvement, whereas the second characteristic involves how consistent that change in performance becomes. Together, these characteristics emphasize that motor learning is a process in which many physical and psychological changes are taking place..
......................
......................                                                                                                                   Fakhrullah, S.Pd,,